Tampilkan postingan dengan label Informasi Maba Jogja.... Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Informasi Maba Jogja.... Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 April 2012

Panduan Wisata Sendirian Bagi Pria

I love traveling alone....so when i read this article, i re-post this article to share for others...
traveling alone for me is interesting, excited, and full of adventure....

Para pria umumnya lebih merasa santai dan aman ketika bepergian sendirian, dibandingkan wanita. Meski demikian, beberapa hal ini patut diperhatikan:

Jangan terlalu pamer gadget

Jika Anda ingin menikmati keindahan alam dan berteman dengan orang baru, kurangilah bermain gadget. Anda akan diincar oleh pencuri jika terlalu memamerkan barang-barang tersebut.

Lindungi diri dari pencopet

Pakailah celana dengan kantong resleting di depan untuk menyimpan barang berharga. Ini memang kurang aman jika dibandingkan dengan tas pinggang namun jauh lebih baik dari kantong lainnya. Ini akan mengurangi kemungkinan Anda kecopetan.

Tetaplah kendalikan diri

Entah itu minuman memabukkan khas daerah setempat atau wanita pribumi, pastikan Anda tetap mengendalikan keadaan dalam situasi apa pun. Anda pasti tidak ingin berakhir tersesat, bangkrut atau hal buruk lainnya. Anggaplah Anda sedang berada di lokasi syuting film “Hangover” ketiga.

Ambil risiko, tapi jangan memaksakan diri

Tentu saja, loncat tebing sangat menyenangkan. Namun jika Anda belum pernah mengendarai motor sebelumnya, jangan coba-coba mengendarai motor di negara tempat Anda berlibur.

Tetap terhubung dengan orang rumah

Beritahukan rencana perjalanan Anda pada orang rumah, berikut dengan nomor telepon setiap tempat Anda menginap. Tidak mengapa jika rencana Anda baru garis besar, namun jika ada perubahan, Anda mungkin harus mengirim email informasi baru tersebut kepada orang rumah untuk berjaga-jaga dalam situasi darurat.






Oleh: Faz Abdul Gaffa (http://id.travel.yahoo.com)

Jumat, 23 Maret 2012

Selamat Hari Kehutanan dan Hari Air

Memperingati Hari Kehutanan Sedunia tanggal 21 Maret dan Hari Air tanggal 22 Maret....
Indahnya hutan tropis
Air sungai yang jernih
Hutan dan Air adalah dua hal yang saling mengikat, dua hal yang tak bisa dipisahkan, sangat dibutuhkan bagi bumi ini, manusia ikut memanfaatkan hingga mengeksplorasi berlebihan, dan tanpa kita sadar kita telah mencemari dan merusak alam....

Sejauh mana peran hutan dan air bagi kehidupan makhluk di muka bumi? Bagi manusia yang kurang menyadari pentingnya kehadiran mereka.... kerusakan hutan dan air memberi dampak untuk semua termasuk kita manusia....

Hutanku
Pemanenan yang melebihi etat
pongah menebang asa yang membelah senyap
gemerisik daun kering terinjak kaki perkasa

burung-burung terbang menghilang

cahaya langit pergi mengusap marah


yang mengintip direrimbun daun

dan kuncup kuncup bunga

tak pelak kayu diam tertebas ayunan sebilah kampak
dan gergaji yang sudah selesai diasah


garang menajam tak dengar keluh mengerang
dengarsuara bumi yang mengaduh hingga memekak

tangisan sang akar tertinggal terkelit sakit

habis darah mengalir dan kayu yang tercacah cacah


hutan tak ingin meranggas sedang angin membawa panas
memanggang kayu dan daun daun

ooh  benih benih dari rahim pertiwi
menghitung puluhan tahun menunggu tunas tumbuh


sedang longsor memanggil tanah menimbun segala cinta

terhentilah nafas dan hutanku lampus
(by: Rini Intama )

Pembukaan lahan dengan pembakarn hutan

Air

Gemericik riuh air jernih

mendendang jiwa
segar membasuh wajah bumi
yang lelah dalam terik matahari nan menyengat

Bening mengalir tanpa keruh
menghidupkan semua yang berjiwa
namun dengan berjalannya waktu
kebersihannya tak lagi mudah didapat

Air kian tak berdaya
dalam derasnya derita alam
buatan manusia

yang tak berjiwa


Pencemaran
Banjir
Kekeringan

Jaga air sayangi hutan untuk kebaikan semua....jadilah pelopor lingkungan!


Sumber puisi:http://cahayahati.multiply.com/
http://green.kompasiana.com/penghijauan/2011/02/19/hutanku-puisi-rini-intama/ 








Rabu, 21 Maret 2012

Bentrok oleh Mahasiswa Tidak Perlu


Laporan Wartawan Tribun Jogja, Susilo Wahid Nugroho
TRIBUNNEWS.COM, SLEMAN - Para pendemo terlibat bentrok dengan aparat kepolisian di wilayah perempatan UIN Sunan Klijaga, Yogyakarta, Senin (19/3/2012). Awalnya aksi berjalan damai, tetapi ketika massa mulai membakar ban di tengah jalan perempatan UIN, bentrok pun akhirnya pecah.
Aparat kepolisian berusaha memadamkan api dan membubarkan masa dengan menggunakan  water canon. Merasa tidak terima, massa yang tergabung dalam  Aliansi Rakyat Menggugat (ARM) tersebut melempari petugas kepolisian dengan batu.
Bentrokan pun tak dapat dihindari. Massa terus menerus melempari polisi dengan batu. Polisi terus mengejar para pendemo. Bentrok masih terjadi ketika berita ini ditulis, Senin siang. (*)

Editor: Yulis Sulistyawan  |  Sumber: Tribun Jogja

Para aktivis mahasiswa yang bentrok dengan polisi, di seputar kampus UIN Yogyakarta, Senin  

Membaca berita ini dan mendengar dari beberapa teman tentang kejadian bentrok mahasiswa dengan aparat kepolisian baru-baru ini di Yogyakarta membuat saya merasa "aneh", sebagai mahasiswa saya merasa hal ini seharusnya tidak perlu terjadi, jika mau demo lakukanlah dengan damai tanpa harus membuat kerusakan, merusak diri, merusak kampus, dan merusak fasilitas umum. Semoga ini tak terulang lagi, saya ingin berkomentar:

Bentrokan yang terjadi pada mahasiswa adalah isu lama yang tak pernah selesai sampai sekarang. Mahasiswa yang selama ini diharapkan menjadi penjaga nilai-nilai moral dalam masyarakat, justru merusaknya dengan tindakan-tindakan anarkis. Sungguh ironis. Mahasiswa yang mendapat predikat kaum intelektual ternyata tak mencerminkan etika intelektualnya dalam tindakan nyata.
Mahasiswa sebagai aktor intelektual, seharusnya mencerminkan sikap seorang akademisi dalam bertindak di tengah-tengah masyarakat. Ilmu yang diperoleh di bangku perkuliahan harus dijadikan pijakan dalam menyikapi segala persoalan. Karena, jika mahasiswa tidak mencerminkan sikap akademisi dan intelektual, maka sesungguhnya itu telah menciderai dirinya sendiri sebagai mahasiswa dan perguruan tinggi sebagai wadah pencetak mahasiswa. 
Bentuk aksi anarkis mahasiswa
Dunia perguruan tinggi benar-benar terancam. Eksistensinya mulai dipertanyakan ulang oleh masyarakat luas. Perguruan tinggi yang seharusnya menjadi kawah candradimuka bagi mahasiswa, agar menjadi pemimpin masa depan yang tangguh, telah berubah menjadi pabrik penghasil kaum anarkis. Kepercayaan masyarakat akan peran perguruan tinggi pun semakin memudar.
Perguruan tinggi seharusnya mampu melahirkan generasi yang unggul dan berkualitas. Selain itu, juga harus melaksanakan fungsi dan tanggungjawabnya sesuai dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Yaitu melakukan pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, serta pengabdian pada masyarakat.
Bentuk aksi anarkis mahasiswa 

Pada umumnya, tindakan anarkis, apa pun bentuknya, siapa pun pelakunya dan apa pun motifnya, adalah tindakan yang tidak bisa dibenarkan. Anarkis adalah tindakan perusak dan itu tentu tidak patut dilakukan oleh siapa pun. Apalagi oleh mahasiswa, generasi yang diharapkan menjadi calon pemimpin masa depan dan sekaligus penerus estafet kepemimpinan bangsa. Sungguh tidak pantas.

Akan tetapi, kenyataan di lapangan sangat berbeda. Hampir setiap aksi yang dilakukan oleh mahasiswa selalu diwarnai tindakan anarkisme. Akibatnya, masyarakat menjadi bosan dan cenderung apatis dengan aksi mahasiswa. Padahal, sesungguhnya aksi yang dilakukan itu adalah untuk kepentingan masyarakat (rakyat). 
Stigma negatif masyarakat terhadap mahasiswa tidak bisa ditutup-tutupi lagi. Masyarakat telah jenuh karena terlalu sering melihat mahasiswa bentrok, mahasiswa berkelahi, membakar gedung, saling serang dan tindakan-tindakan lain yang tidak sepatutnya dilakukan.
Wahai mahasiswa!! Kita pemimpin bangsa selanjutnya....lakukan yang terbaik untuk bangsa dan negara tanpa harus "merusaknya" dengan tindakan-tindakan kita...jangan mudah dipengaruhi...Hidup Mahasiswa Indonesia!

Senin, 19 Maret 2012

Memahami Konflik Tenurial Dalam Implementasi REDD+

i Green Discussion

Acara ini merupakan salah satu program kerja Departemen Kajian Strategis Lembaga Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM. Acara yang membangun konsep kegiatan diskusi santai ini mengangkat berbagai isu kehutanan dan lingkungan nasional dengan menghadirkan pembicara-pembicara yang kompeten. Pada iGreen Discussion #1 ini bertemakan Memahami Konflik Tenurial Dalam Implementasi REDD+ dengan pembicara Dr. Ahmad Maryudi, S.Hut, M.For, dosen Bagian Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan UGM dan anggota pada IUFRO Task Force International Forest Governance. Acara iGreen Discussion #1 ini dilaksanakan di Aula Fakultas Kehutanan, 8 Maret 2012 jam 15.45 WIB.

Isi dari rangkaian iGreen Discussion ini telah dipublish dalam Katrat's Note#2 di situs resmi LEM FKT UGM. 
Kastrat's Note #2
Kamis, 8 Maret 2012 lalu Departemen Kajian dan Strategis LEM FKT UGM mengadakan diskusi dengan topik “Memahami Konflik Tenurial dalam Implementasi REED+”. Dengan pemateri Dr. Ahmad Maryudi, S.Hut M.For. Diskusi berlangsung dengan lancar. Banyak kawan-kawan yang bergabung dalam diskusi ini, mulai dari mahasiswa S1 minat Manajemen Hutan, Teknologi Hasil Hutan, Silvikultur, dan Konservasi Sumber Daya Hutan bahkan ada juga mahasiswa pascasarjana. Mereka memiliki minat yang tinggi untuk mengatahui masalah tentang REDD atau Reducing Emission from Forest Degradation and Forestation. Lalu sebenarnya apakah REDD itu? Inilah sekilas tentang REDD.
Sebagai Negara yang memiliki hutan tropis terluas ketiga di dunia, sektor kehutanan tidak hanya berkontribusi dalam pembangunan nasional melainkan juga berperan signifikan dalam menjaga keseimbangan ekosistem termasuk stabilisasi emisi global.
Hasil hutan kayu merupakan salah satu produk andalan hutan yang mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Demikian pula halnya dengan konversi kawasan hutan untuk lahan pertanian dan perkebunan. Namun di sisi lain, penebangan pohon dan alih fungsi lahan hutan tersebut menghasilkan emisi gas rumah kaca yang menyebabkan terjadinya pemanasan global.
Selain hal diatas, ada tiga hal yang menjadi penyumbang emisi terbesar. Pertama adalah dari sektor industri. Tentu kita semua tahu bahwa karbon yang berasal dari industri sangat besar. Industri beroperasi 24 jam sehari dan bukan hanya negara maju saja yang memilikinya, walaupun yang lebih banyak menyumbang emisi karbon adalah industry dari negara-negara maju.
Penyumbang emisi terbesar kedua adalah dari sektor transportasi. Di Negara-negara berkembang seperti Indonesia, Thailand, dan India transportasi menjadi masalah yang sulit untuk dipecahkan. Kepadatan kendaraan di jalan mengakibatkan macet dan tentu saja menjadi sumber polusi yang besar. Sarana transportasi umum yang kurang mendukung mengakibatkan masyarakat lebih memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi sehingga emisi karbon dari sector ini pun sulit untuk dikurangi. Dan yang ketiga adalah dari sector domestik. Sektor domestik ( kulkas, mesin cuci, microwave, AC, dll) ternyata juga menyumbang emisi carbon yang cukup besar ke atmosfer. Hampir setiap rumah pasti memiliki alat-alat tersebut untuk daily use. Mungkin dari sector ini pula lah yang jarang disadari oleh masyarakat bahwa sebenarnya mereka menyumbang banyak carbon karena telah menggunakan alat-alat tersebut.
Apabila karbon sudah terlepas di atmosfer, itu akan bertahan ratusan tahun. Pada abad 19 terjadi emisi besar-besaran di daerah Eropa, yaitu saat revolusi industri. Karbon yang dihasilkan terakumulasi sampai saat ini. Dan tentu saja karbon itu tidak akan mudah hilang dari atmosfer.
Melihat emisi karbon yang terus meningkat, maka pada tahun 1997 dibentuklah persetujuan internasional mengenai pemanasan global atau yang lebih dikenal dengan Kyoto Protocol. Negara-negara yang meratifikasi Kyoto Protocol tersebut berkomitmen untuk mengurangi emisi carbon. Salah satu isi dari kesepakatan Kyoto Protocol yaitu negara maju wajib mengurangi emisi carbon sebesar 5%, sedangkan negara berkembang tidak memiliki kewajiban untuk mengurangi emisi carbon. Namun ternyata negara industri maju seperti Amerika, Kanada dan Australia justru menolak untuk meratifikasi Kyoto protocol.
Dari sinilah kemudian muncul REDD pada pertemuan di Bali tahun 2007. REDD adalah semacam insentif bagi Negara yang memiliki hutan tropis untuk mengurangi emisi karbon. Indonesia lewat. Pada pertemuan di Kopenhagen tahun 2009 lalu, Presiden SBY menyatakan bahwa Indonesia mampu mengurangi emisi carbon sebanyak 26%, bahkan dengan beraninya beliau menyatakan bahwa Indonesia mampu mengurangi emisi hingga 41% apabila mendapat bantuan dana dari negara maju! Dana itu diperlukan untuk merawat hutan milik Indonesia. Saat itu Norwegia, bersedia memberi bantuan sebesar 1 miliar dolar kepada Indonesia dengan syarat Indonesia benar-benar bisa mengurangi emisi carbon. Norwegia tentu saja melakukan itu dengan senang hati. Mengapa? Karena apabila mereka masih memiliki kewajiban untuk mengurangi emisi hingga 5%, mereka akan rugi sebesar 22 miliar dolar. Dan karena mereka telah membayar 1 miliar dolar kepada Indonesia, mereka tidak lagi berkewajiban untuk mengurangi emisi. Itu berarti mereka pun akan terlepas dari kerugian.
Lalu bagaimana dengan Indonesia? Indonesia mungkin akan mendapat insentif dari kesediaannya untuk membantu negara maju untuk mengurangi emisi carbon, namun apakah pemerintah, terutama bapak Presiden yang dengan beraninya menawarkan diri untuk mengurangi emisi, mengetahui dan memikirkan dampak selanjutnya dari kesepakatan tersebut?
REDD mungkin membawa dampak positif bagi keadaan hutan di Indonesia. Hutan lebih terjaga dan lebih lestari. Namun dibalik dampak positif dari REDD, dampak negatifnya selalu mengintai. Uang yang dijanjikan belum juga diterima Indonesia, uang tersebut masih abstrak dan entah ada atau tidak. Namun konflik-konflik dalam negeri yang berkaitan dengan kebijakan tentang REDD mulai bermunculan. Salah satunya adalah konflik tenurial. Kegiatan masyarakat di sekitar hutan banyak yang dipandang sebagai penyumbang emisi yang besar misal ladang berpindah. Karena telah berjanji untuk mengurangi emisi, maka Pemerintah melarang masyarakat untuk melakukan kegiatan dalam hutan,(ex:ladang berpindah) demi uang yang belum tentu ada. Lalu bagaimana nasib masyarakat sekitar? Darimana mereka mendapat penghasilan? Apakah mereka akan mendapat bagian dari insentif REDD apabila uang tersebut benar-benar diterima Indonesia? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang hingga saat ini belum jelas jawabannya.
Lalu, bagaimana jika emisi benar-benar berkurang dan uang sudah diberikan Norwegia pada Indonesia? Apabila hal tersebut terjadi, maka pemerintah pasti akan mengklaim bahwa berkurangnya emisi tersebut berasal dari lahan hutan negara. Padahal bukankah belum tentu bahwa yang berhasil mengurangi emisi adalah hutan negara? Bagaimana kita bisa melihat hutan mana yang telah mengurangi emisi dan menentukan kepada siapa uang tersebut diberikan? Hal ini juga memiliki potensi akan memicu konflik antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam pembagian uangnya.
Melihat paparan keadaan diatas, maka timbul pertanyaan dari Rizky, salah satu peserta diskusi, yaitu dimana kita sebagai Forester memposisikan diri menghadapi REDD, apakah menerima atau menolaknya? Rizky berpendapat bahwa keduanya memiliki nilai positif. Kemudian Pak Maryudi menjawab, bahwa sebagai seorang forester, kita tidak perlu memikirkan tentang REDD, apakah kita akan mendapat insentif atau tidak. Tapi sudah menjadi peran dan kewajiban kita untuk mengelola hutan yang kita miliki secara lestari sehingga bisa dimanfaatkan secara terus menerus.
Oleh: Dyah Nawang Wulan – Departemen Kajian Strategis LEM FKT UGM


Rabu, 22 Februari 2012

Menilik Dominasi Suara Menteri Dalam Pilrek UGM


Tahun ini UGM akan menyelenggarakan sebuah perhelatan lima tahun sekali untuk memilih rektor yang baru.  Rektor UGM Prof. Ir. Sudjarwadi, M. Eng. Ph. D. harus mengakhiri status jabatannya pada Mei 2012.  Berdasarkan Anggaran Rumah Tangga (ART) UGM November 2003, proses pemilihan rektor (pilrek) dilaksanakan selambat-lambatnya tiga bulan sebelum masa jabatan rektor berakhir. “Proses pilrek tahun ini akan dimulai pada bulan Maret dan diakhiri pada bulan Mei dengan menetapkan rektor yang baru,” ujar Dr. Ir. Didik Purwadi, M.EC. selaku Sekretaris Majelis Wali Amanat (MWA) UGM.

MWA memiliki wewenang untuk menyelenggarakan pilrek. Hal ini ditegaskan dalam PP No. 153 Tahun 2000 yang menyebutkan bahwa salah satu tugas MWA adalah mengangkat dan memberhentikan rektor. Adapun anggota MWA tersebut berjumlah dua puluh tiga orang yang terdiri atas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan atau yang mewakili, masyarakat umum (Sri Sultan Hamengku Buwono, tokoh masyarakat, dan alumni UGM), serta masyarakat UGM (Rektor, wakil Senat Akademik (SA), wakil fakultas-fakultas, wakil tenaga kependidikan, dan wakil mahasiswa). Sementara itu dalam pilrek, MWA harus membentuk Panitia Ad Hoc terlebih dahulu. Namun, hingga berita ini diturunkan, Panitia Ad Hoc belum terbentuk. “Di tubuh MWA sendiri saat ini masih melakukan pergantian kepengurusan. Panita Ad Hoc akan dibentuk setelah pengurus MWA yang baru itu dilantik pada tanggal 1 Februari,” jelas Didik.

Berdasarkan ART UGM November 2003 pula disebutkan bahwa mekanisme pilrek terdiri atas tiga tahapan, yaitu penjaringan bakal calon rektor, pemilihan calon rektor, serta pemilihan dan penetapan rektor. Pada tahap pertama, Panitia Ad Hoc yang beranggotakan unsur-unsur dari MWA, SA, dan Majelis Guru Besar (MGB) melakukan penjaringan terhadap bakal calon rektor yang telah terdaftar. Adapun bakal calon rektor tersebut merupakan masyarakat UGM yang memenuhi kriteria tertentu dan diajukan berdasarkan aspirasi warga universitas.

Bakal calon rektor yang telah terpilih kemudian dijaring kembali untuk mendapatkan calon rektor. Calon rektor tersebut dipilih berdasarkan pertimbangan dari SA dan MGB yang menghasilkan tiga calon rektor terpilih. Kemudian, salah satu dari tiga calon rektor tersebut akan dipilih menjadi rektor dalam rapat terbuka MWA. Berdasarkan PP No. 153 Tahun 2000, rektor dipilih melalui pemilihan suara dengan porsi suara menteri sebesar 35% dari seluruh suara yang sah dan 65% sisanya dibagi rata kepada setiap anggota MWA lainnya. 35% porsi suara menteri itu sangat menentukan siapa yang akan menjadi rektor selanjutnya. “Menteri tetap menjadi ‘dewa’. Kemana (suara: red) menteri mengalir, disitulah kemenangan untuk rektor,” ujar Luthfi Hamzah Husin, wakil mahasiswa di MWA.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) No.24 Tahun 2010 juga menyebutkan bahwa menteri memiliki 35% hak suara dari total pemilih. Kondisi ini dinilai tidak adil bagi anggota MWA lainnya, salah satunya Didik. Ia menyayangkan adanya porsi suara menteri yang terlalu besar yang dianggap kurang demokratis.

Dengan porsi suara menteri yang cukup besar itu, menteri harus bisa mendengarkan aspirasi civitas akademik UGM sehingga rektor yang terpilih berasal dari aspirasi semua pihak. “Sekarang kita harus melihat menterinya, semua itu tergantung menteri. Maka dari itu, menteri hendaknya bisa membawa aspirasi dari berbagai pihak jelas Prof. Dr. Jahja Muhaimin, mantan Menteri Pendidikan Nasional pada era Kabinet Persatuan Nasional. Beliau menambahkan, MWA juga harus benar-benar tanggap terhadap harapan para civitas akademik UGM sehingga aspirasi dari berbagai pihak dapat terakomodasi.

Aspirasi terhadap rektor yang nantinya akan memimpin UGM juga muncul dari mahasiswa. Mahasiswa merupakan bagian dari sistem pendidikan di universitas. Akibatnya, segala peraturan yang ditetapkan oleh sistem itu nantinya akan berimbas pada aktivitas mahasiswa di dalam kampus. “Mahasiswa punya fungsi sentral bukan hanya sebagai penerima pendidikan namun juga sebagai perumus pendidikan. Dengan mengadakan pemilihan langsung, dimana seluruh mahasiswa terlibat saat pilrek, mahasiswa diharapkan mampu melakukan kontrol dalam sistem tersebut,” ujar Sekjen BEM KM Rabiah Aladwiyah. Selanjutnya, Rabiah juga menambahkan “Seandainya mahasiswa ikut dilibatkan dalam pilrek, maka mahasiswa juga punya tanggung jawab dalam pengguliran kebijakan rektorat.”

Di sisi lain, Jahja berpendapat bahwa pilrek langsung dianggap tidak umum digunakan. Oleh karena itu, mahasiswa harus berusaha memercayakan pilrek kepada MWA. “Di dalam tubuh MWA sendiri ‘kan sudah ada perwakilan dari mahasiswa. Jadi, wakil mahasiswa itulah yang harus bisa menampung harapan mahasiswa terkait pilrek,” tandas Jahja.

Hal senada juga diungkapkan oleh Luthfi bahwa kematangan dan kedewasaan mahasiswa dalam berpolitik masih amburadul sehingga tidak relevan jika mahasiswa memilih rektor secara langsung saat ini. Jika pemilihan langsung itu dipaksakan, maka akan terbentuk praktik politik yang hanya mengedepankan kepentingan golongannya. “Pemilihan langsung tersebut nantinya malah akan membentuk suatu praktik politik komunalisme,” jelas Luthfi.

Berdasarkan fakta tersebut, aspirasi mahasiswa dalam pilrek masih dapat disalurkan melalui kedua perwakilan mahasiswa dalam MWA. “Walaupun perwakilan mahasiswa dalam MWA hanya berjumlah dua orang, mahasiswa masih memiliki legitimasi untuk membawa aspirasi mahasiswa dalam memilih rektor nanti,” tutup Luthfi.

[Azis Rahmat Pratama, Nindias Nur Khalika, Yuliana Ratnasari]

Sumber: http://www.balairungpress.com/2012/01/menilik-dominasi-suara-menteri-dalam-pilrek-ugm/

My point of view:
coba bayangkan....suara menteri 35%, suara WMA yang beranggotakan 23 orang sebanyak 65%, sedangkan mahasiswa UGM yang jumlahnya ribuan hanya diwakilkan oleh dua orang dalam WMA, tetap saja Pilrek digenggaman menteri.
Menteri benar-benar harus bijaksana dalam memilih, jangan sampai merugikan rakyat UGM.

Selasa, 05 Juli 2011

Peta Jogja

Jogja ga bikin kamu tersesat kok, Jogja termasuk Kota yang suka bagi-bagi peta, haha
Hampir disemua tempat ada petanya dan sebagian besar mahasiswa baru pasti punya....
Ne ada Peta Jogja versi Flash, buat di komputer ato laptop kamu....



Download Peta Jogja

Maba, rakyat baru UGM, Sleman dan D.I. Yogyakarta

Maba, ya...Mahasiswa Baru...siapa yang tidak tahu?!
Sebutan bagi mereka yang berada di Level 1 dalam dunia perkuliahan. Ospek menjadi pertanda awal mereka menjalani Level 1 ini.
Dalam entri ini, saya akan memberikan berbagai informasi terkait dengan kehidupan Maba Perantauan yang akan merasa asing di kota barunya, Jogja. Ya, Maba UGM...sekilas informasi buat mereka!

1. Petunjuk arah
Ini penting banget!! Jangan sampai kamu "Sudah bertanya sesat dijalan..." heheh
Pasti bingung buat kamu-kamu yang masih baru di Kota Jogja Istimewa jika bertanya dijalan klo mau kesuatu tempat. Disini mereka biasa menggunakan arah mata angin yaitu Utara, Timur, Barat, Selatan.
Utara itu arahnya ke Gunung Merapi yang fenomenal, Selatan arahnya ke Pantai Parangtritis yang terkenal.
Barat arahnya ke Malioboro dan seterusnya, Timur ya sebaliknya, hehe

2. Informasi kos-kosan
Biasanya didaerah sekitar kampus UGM ada banyak tempat yang menyediakan layanan Informasi Kos, bayar lah! klu ga salah waktu saya jadi Maba 2009, ntu alamat 10 kos kena Rp. 20.000,- dan belum ngejamin 10 kos-kosan itu kosong. Disitu selain alamat biasanya juga ada harga kos-kosannya.

Buat kamu-kamu yang kuliahnya di utaranya UGM, seperi Fakultas: Kehutanan, Peternakan, Kedokteran Hewan, Teknologi Pertanian, Pertanian, Hukum, Ekonomi dan Bisnis, Ilmu Budaya, Filsafat, Psikologi, dan Diploma Ekonomi. Kalian bisa memilih kos-kosan di daerah Karangasem, Karangbendo, Klebengan, Jakal (Jalan Kaliurang), dan Kuningan. Yah, pokok e daerah sekitar situ lah....

Buta kamu-kamu yang kuliah di baratnya UGM, seperti Fakultas: Teknik, Kedokteran, Biologi, MIPA, Farmasi, Kedokteran Gigi, Geografi. Selain bisa di Jakal, Karangasem, Karangbendo, juga dekat sama daerah Pogung dan Sendowo....

Bagi kalian Maba biasanya kan punya peta kawasan UGM, ya tinggal dilihat aja mana yang rasanya paling dekat sama kampus....
Tau ga kenapa sebaiknya kos-kosan dekat dengan kampus? Intinya ya biar cepat nyampe kampus dan dapat informasi di kampus...karena saat menjadi mahasiswa kita harus aktif mencari informasi, ga lagi diumumkan kayak di SMA....so, matanya harus sering-sering liat papan informasi di kampus....biar selalu up date!!
Mahasiswa ga up date informasi, apa-apa aja yang terjadi di kampus ga tau....yah, gmn ya? Siap-siap aja ketinggalan, bisa ketinggalan daftar Beasiswa, ketinggalan acara Pormagama, pendaftaran Asisten Lab, pendaftaran BEM, yah macam-macam lah....mulai yang sifatnya akademik sampai yang non-akademik.
Selain itu, bisa jadi kamu dicuekin teman, gmn ga? apa-apa aja ga tau! Hehe
Buat cowok2, jangan bingung...di wilayah kos2an sekitar kampus UGM, kos2an cowok ga ada yang bagus, harga standar Rp. 2 juta - Rp. 2.5 juta.....
Klu buat cewek-cewek jangan ditanya....bnyak bgt yang keren mulai dari byar bulanan ampe tahunan....dan lebih mahal tentunya dari kos2an cowok
kos2an putri
kos2an putra
3. Makan
Buat kamu-kamu asli Padang, kayak saya!
Satu hal yang perlu diingat! "Pedasnya masakan padang akan berkurang jika semakin jauh dari Sumatera Barat!"
yah, bukan hal yang aneh klu orang Padang punya selera makan yang ajjiiiiib!! (thumb up)
Makanan di Jogja akan terasa aneh bagi kita-kita yang dari Padang, pengalaman saya waktu jadi Maba, saya demam 1 minggu gara-gara makan nasi goreng! Gilaaa ga tuh?!
nasi goreng seafood, warnanya yang pucat, bikin ane juga pucat habis memakannya
Tapi jangan kuatir klu malam, Jogja itu surganya makanan....akeh tenan!! alias buanyak bgt!! tapi sesuaikan selalu dengan lidah anda!! heheh
Harga makanan di Jogja murah bgt, Rp 4000 aja kamu udah makan pake nasi, sayur, telor, mie, sambel....lumayan kan??
Jadi, jangan heran ntar klu udah balik ke kampung halaman...jangan marah klu dibilang perhitungan karna liat makanan yang sama dengan harga lebih tinggi.
Misal nasi goreng di Jogja Rp. 6000 di Padang dengan porsi sama harganya Rp.15000....jadi kesal sendiri, padahal harga ini masih standar waktu belum merantau, heheh


4. Transportasi
Jangan kaget klu di Jogja ga ada angkot, yang ada cuma bus, becak, ojek, transjogja....
Di Jogja bus waktu operasionalnya dibatasi sampai jam 5 sore, klu transjogja sampai jam 9 malam.
Tau kenapa? karena utk mensejahterakan tukang becak....jadi ada keseimbangan, tukan becak jadi punya waktu operasional efektif sendiri...karena becak juga merupakan icon wisata Jogja....luar biasa ya peraturan di Jogja, salut buat Sultan!

Permasalahan bagi mahasiswa yang bermukim sekitar jakal, shelter transjogja ga ada di daerah itu, yang ada cuma di Kopma UGM dan RS. Sardjito.....jadinya jalan deh dari shelter transjogja....
Slama hidup saya, angkutan dalam kota yang paling nyaman ya ini, transjogja, udah tempatnya luas, murah juga, cm Rp 3000 udah bisa keliling Jogja pake kendaraan ini. Ini bisa jadi solusi buat kamu-kamu yang mau keliling Jogja dengan harga murah.

5. Tempat belanja bulanan
Yah, gini ne nasib mahasiswa jauh dari orang tua semua urus sendiri....
Belanja bulanan contohnya: sabun, odol gigi, sikat gigi, susu, teh, gelas, buku, kertas, pena, pensil, mie instan, snack, dll
ada 3 tempat yang rame mahasiswa belanja
  • Kopma UGM
Kepanjangannya Koperasi Mahasiswa UGM, rata-rata pegawainya adalah mahasiswa UGM...disini semua kebutuhan ada, segala pernak pernik UGM juga ada, mulai dari sticker, pulpen, tas, kaos, sampai jaket juga ada.
  • Mirota Kampus
Posisinya diseberang KFC, selatannya Kopma UGM, pas di perempatan jalan C. Simanjuntak dan Jakal. Disini lebih murah dan lebih komplit lagi sebagai sebuah swalayan.....tapi disini ga ada pernak-pernik UGM.
Tapi disini lebih bervariasi produknya. 
  • Gading Mas
Swalayan ini posisinya di Jakal. Klu dari Kopma terus ke utara melewati perempatan MM UGM. Dibanding 2 swalayan diatas, menurut saya ne yang paling bawah, tapi ne lebih dekat dengan wilayah kos-kosan.

6. Belanja perabotan kamar kos
Banyak tempat di Jogja yang menjual untuk keperluan KOS, selain 3 tempat diatas, juga ada beberapa tempat seperti:
  • Toko Cahaya
Toko ini lumayan dikenal mahasiswa sekitar pogung, karangasem, jakal, dan karangbendo. Posisinya berada di Jakal sekitar MM UGM....disitu ada berbagai macam kasur, lemari, kaca/cermin, karpet, dll
  • Sejenis koperasi juga punya UGM, lupa namanya, hehe
Toko ini tepat di daerah selokan mataram depan Perikanan UGM, disini jauh lebih murah dan kualitasnya oke! Mulai dari lemari, meja belajar, kursi sampai sepeda juga dijual di toko ini.
  • Jalan Colombo
Ne tempatnya beli-beli meja, rak buku, lemari, dll....harganya terjangkau, klu hari-hari biasa meja ada yang harganya Rp. 50000....pandai-pandai nawar aja....klu tahun ajaran baru pasti naik bgt harganya.....
Posisinya tepat disekitar depan kampus UNY.

7. Tempat cukur rambut
 
Buat cowok, yang lumayan itu di Kompak, mereka punya moto unik...."Kompak, tempat cukur cowok cerdas" Hehehe.....unik ya...namanya juga Jogja Istimewa.....tahun 2009 sekali cukuran Rp. 5000, tahun 2011 naik jadi Rp. 6000
Posisinya dibelakang gedung MM UGM, di Jakal....klu bingung ntar tanya aja sm orang sekitar MM UGM yg di jalan Kaliurang alias Jakal.

Udah dulu ya....informasi lanjutannya tunggu aja entri selanjutnya!!